A+ A A-

Pada ke Mana Alumni Jepang?

  • Last Updated: Friday, 03 August 2012 06:05
  • Written by Ferizal Ramli
  • Hits: 2826

Saya heran pada kemana sih alumni Jepang (mohon maaf sekali, pertanyaan saya ini bukan „SARA“, jadi mohon jangan disalahpahami)? Kenapa tidak terlihat kiprah nyatanya? Apa mereka ndak ada yang berkualitas?

Itu Jepang kasih bea siswa „Jor-jor-an“. Jepang ingin sekali orang Indonesia punya jaringan kuat dengan Jepang. Hampir semua orang di birokrasi dikasih bea siswa. Hampir semua dosen diberi bea siswa. Jepang pun satu-satunya negara yang sampai saat ini kasih bunga hutang LN yang paling rendah hanya 0.2-0.3 % buat bangsa Indonesia. Bener-2 rendah sekali!

Bandingkan dengan IMF yang kasih bunga pinjaman LN 3% atau Depkeu yang nerbitin surat Hutang (SUN) dengan suku bunga 13%. Berarti pijaman lunak Jepang itu bunganya 50 kali lipat atau 5.000% lebih RENDAH dari bunga SUN karya Depkeu. Jika anda melihat betapa rendahnya Jepang kasih bunga pinjaman pada kita maka anda juga akan tahu betapa „tidak cerdas“-nya para pejabat di Lapangan Banteng sehingga menerbitkan SUN yang amat berbahaya bagi Indonsia.

Kembali ke Jepang, lantas kenapa kok Jepang mau kasih bunga pinjaman serendah itu? Artinya Jepang benar-2 menempatkan Indonesia sebagai partner strategis perekonomiannya. Tapi kenapa ndak ada Alumni Jepang yang bisa menangkap peluang ini? Kenapa ndak ada para alumni Jepang yang mampu duduk jadi Menkeu, Menperindag, Meneg PU, dll., sehingga bisa bersinergi dengan kepentingan Jepang untuk menggolkan kepentingan kita juga? Kenapa tidak ada alumni Jepang yang mensinergikan kepentingan mereka dengan kepentingan kita yang akhirnya menguntungkan pembangunan ekonomi Indonesia? Kenapa tidak ada alumni Jepang yang menjadi motor penggerak hal ini?

Bunga pinjaman 0,2-0,3% itu merupakan dana berlimpah untuk membangun infrastruktur sektor riil yang amat dibutuhkan Indonesia. Mosok kita terpaksa harus keluarkan dana untuk bayar suku bunga 13% saat berhutang, hanya karena para Ekonom alumni Amrik sangat pro Investment Bank sehingga Depkeu mengeluarkan SUN?

Kemana semua kualitas alumni Jepang? Ndak bisa kah mereka melihat peluang bahwa Jepang bener-2 sangat butuh Indonesia untuk menggerakkan mesin ekonominya yang telah lebih dari 2 dekade stagnan? Tidak bisakah kita menjadikan Jepang sebagai partner ekonomi kita. Lupakan WB (World Bank), Lupakan IMF, lupakan hot money-nya para Investment Banking. Kita punya Jepang yang Jepang butuh kita!

Saya kasih contoh betapa “tidak berdaya-nya” para spekualan Investment Banking buat Indonesia, jika kita bisa besinergi dengan benar dan win-win solution. BJ Habibie naik jadi Presiden. Lalu dia bilang ke Jerman:

„Hey Du (kamu) bule Jerman, mau ndak kamu kuajak invest di Indonesia?“. „Kita punya market besar kita buat “win-win solution”. „ Tapi Du musst uns helfen. Anda mesti tolong kita”. „Itu investment Banking goreng rupiah sampai 1 USD = Rp. 15.000”. “Kita ndak bisa hidup jika rupiah digoreng seperti itu”. “Tolong gebuk para spekulan Investment Banking itu!”, kira seperti itulah BJ Habibie bicara pada Gerard Schöerder.

Lalu cepat si Kanselir Gerard Schöerder kasih perintah back up Indonesia. Hanya dalam “hitungan detik” Dollar melorot sampai level cuma hanya Rp. 6.500 (data Wikipedia). Sebuah level sampai hari ini kita tidak pernah mampu mencapainya.

Kalau Jepang bisa jelas lebih hebat lagi melakukan itu, karena Jepang akan melakukannya sepenuh hati. Jepang butuh negara besar seperti Indonesia untuk menyelematkannya stagnasi 2 dekade Ekonominya. Beda dengan Jerman yang bisa membuat Uni Eropa dan bersinergi disana, Jepang sulit membuat Uni Asia dan memimpin Asia, karena punya rival Cina.

Jadi, Jepang butuh partner yang kuat. Mestinya alumni Jepang di Indonesia mampu melihat peluang itu sebagai peluang kepentingan nasional. Sayang sampai hari ini, alumni Jepang (mohon maaf sekali) tidak mampu melihat ini sebagai peluang.

Saya pribadi, jujur saja dulu menyesal menolak kuliah ke Jepang dan lebih memilih terbang ke Jerman. Dulu pikir saya karena sudah lama bekerja di MNC Jepang, Mitsubishi Heavy Industries, maka ingin mencari suasana baru ke Jerman dan bisa belajar ilmu baru yang masterpiece yaitu standard software SAP. Padahal saya sempat memperdalam B. Jepang secara intensif dan privat di Pusat Study Jepang UGM selama 1 Semester. Kalau tahu Jepang “semurah hati” begini mestinya saya pilih ke Jepang. Dengan “keterbukaan” Jepang untuk mendapatkan partner dalam kerja sama Ekonomi mestinya para alumni Jepang yang nota bene telah memiliki jejaringan ini bisa memanfaatkannya.

Jika para alumni Jepang bisa berkiprah dan menangkap peluang ini, Saya membayangkan kebijakan Ekonomi “Lapangan Banten” bisa berubah drastis dari pro investment banking menjadi lebih pro rakyat. Dari kebiasaan terbitin SUN dengan bunga 13% yang mencekek leher rakyat Indonesia menjadi cari hutangan yang lebih cerdas jika memang butuh hutang untuk membangun infrastruktur industri. Dari kebiasaan mengobral BUMN strategis sehingga rakyat Indonesia menjadi kuli di negaranya sendiri, menjadi kebijakan yang pro pembangunan infrastruktur dan pro investasi sektor riil.

Kemanakah anda semua para Alumni Jepang? Kami rakyat Indonesia menunggu karya anda…

Dari tepian Lembah Sungai Isar,

Sonntag, 09.05.2010

Ferizal Ramli

http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/09/pada-kemana-alumni-jepang/

http://ferizalramli.wordpress.com/

Ferizal Ramli: Facebook: http://de-de.facebook.com/people/Ferizal-Ramli/1557886817 E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.. Blog: http://ferizalramli.wordpress.com/ FERIZAL Ramli saat ini berdomisili di München, Jerman berprofesi sebagai Unternehmensberater/Corporate Consultant for Management, System Integration and SAP Standard Software. Menyelesaikan Sarjananya di UPN “Veteran” Yogyakarta & Universitas Gadjah Mada. Pendidikan lanjutannya dilakukan di Jerman pada Hochschule Furtwangen & Universität Hamburg.

Member Access

Follow KAJI on Twitter

Follow us on Twitter